Menilik Napas Bambu di Kalurahan Muntuk: Warisan Tradisi yang Mendunia

01 Februari 2017 15:17:57 WIB

Muntuk- Di lereng perbukitan Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, terdapat sebuah desa yang seolah tak pernah berhenti berdenyut oleh suara bilah-bilah bambu yang diserut. Kalurahan Muntuk telah lama dikenal sebagai jantungnya kerajinan bambu. Di sini, bambu bukan sekadar tanaman pagar, melainkan urat nadi ekonomi dan identitas budaya masyarakatnya.

Bagi warga Muntuk, keterampilan menganyam bambu bukanlah hasil dari sekolah formal, melainkan warisan turun-temurun yang mengalir di dalam darah. Hampir di setiap teras rumah warga, kita dapat menemui pengrajin yang sedang asyik mengubah batang bambu menjadi berbagai bentuk yang estetis sekaligus fungsional.

Dahulu, kerajinan dari desa ini terbatas pada perkakas rumah tangga sederhana seperti tampah, kukusan, dan bakul nasi. Namun, seiring perkembangan zaman dan sentuhan kreativitas, produk Muntuk telah bertransformasi menjadi barang seni bernilai tinggi.

Tidak heran jika produk-produk dari Muntuk kini tidak hanya mengisi pasar lokal Yogyakarta, tetapi juga merambah hotel-hotel berbintang, restoran mewah di Bali, hingga diekspor ke mancanegara seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

"Kekuatan utama kami ada pada perpaduan antara bahan alam yang melimpah dan ketelatenan tangan manusia yang tidak bisa digantikan oleh mesin."

Komentar atas Menilik Napas Bambu di Kalurahan Muntuk: Warisan Tradisi yang Mendunia

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License